Hallo, Assalamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh :)
Alhamdulillah ‘ala kulli hal, akhirnya kesampaian
ngeblogging setelah sekian lama (menggunakan alasan balapan buat tugas deadline
haha astagfirulloh, maaf ya Ustadzah Nunung jangan dijewer Tiwulnya xD )
Sebenarnya kalau disuruh nulis memang belum ada keahlian,
belum ada ketrampilan, belum bisa rapi dan yak benar memang harus dibiasakan
menulis dan terus dilatih. Tapi kalau mau posting atau membuat status caption
tau-tau bisa panjang dan sok-sok an ngelantur gitu hehe, di Bengkel Diri level
2 dituntut ngeblog dan baiklah mungkin ini awal biar bisa makin hobi lama-lama
mengarang bebas haha.
Bengkel Diri. Pertama kali lihat dan menerka-nerka, “Asik
nih sekolah online, lagi butuh direparasi” ya memang. Sekolah online ini
foundernya Ummu Balqis, memfasilitasi orang-orang yang ingin berhijrah dan
memberikan bekal untuk persiapan menjadi istri sholihah plus ibu kebanggaan
yang hebat (apalagi yang Singlelillah ni cie rinduuuu, bikin rusuh haha).
Setelah masuk grup masyaAlloh, seperti menemukan bongkahan berlian hehe, ketemu
banyak teman hijrah dan lebih luas jaringannya dari Sabrang sampai Merauke bahkan banyak yang dari luar negeri tanpa memandang perbedaan dan di Bengkel Diri berkumpul jadi satu dengan tujuan
yang sama, saling menggenggam untuk sama-sama menjadi lebih baik di mata Alloh.
Di Bengkel Diri, saya menemukan mereka yang jauh lebih
banyak ujiannya hingga membuatku tertampar keras karena masih hobi mengeluh dan
kurang bersyukur. Hebatnya ukhuwah di Bengkel Diri meski belum saling bertemu
tetapi rasa kekeluargaannya jauh lebih erat dan menjadi alarm pengingat saat
futur sedang menyelimut. Tapi alhamdulillah saya berdomisili di kota yang
qodarulloh fasilitatornya juga banyak di sini, bisa lebih sering bertemu,
bahkan intens (mau sombong takut dosa haha)
Di level 1 alhamdulillah saya masuk di kelas Makkah angkatan
2, ada Mbak Al yang dengan setia mendampingi kita di kelas (istilah kerennya
sekarang wali kelas). Bertemu Emaklillah dan geng Singlelillah yang bisa banget
bikin rusuh hingga sebutan Martabak Squad muncul haha masyaAlloh, saya tu suka
terharu nyampe nangis menye betapa Alloh baik banget bisa dipertemukan dengan
mereka (duh pengen meluk satu-satu) dan punya cita-cita semoga bisa makan bareng
martabak di Makkah AAMIIN :)
Di level 2 alhamdulillah masuk di angkatan pertama, yang
awalnya berfikir “Oh besok jaim dulu aja deh, mau liat kelas lain (Jeddah-Madinah)
campur dengan kelas Makkah jadi gimana. Setelah masuk eh ternyata sama aja ya,
rusuhnya haha” hingga geng Singlelillah semakin rame semakin gak karuan grup
khusus Singlelillah rusuh notif ratusan, Emaklillah ngiri merasa tersingkir grup
Cafe Raudhah jadi sepi haha :D
Ya begitu, ketika sudah mendapatkan ketenangan jiwa dari
proses hijrah ada kalanya juga terkena virus “futur” menjadi malas, dengan Bengkel
Diri ini bisa terus memotivasi apalagi kalau udah ada challenge balapan
ngerjain tugas haha.
Intinya, di Bengkel Diri ini saya pribadi menemukan banyak
hal-hal baru dan pengalaman luar biasa yang gak bisa diungkapkan. Entah kenapa
rasa ukhuwah ini begitu kuat, bahkan yang awalnya belum bertemu sama sekali
saat ada kesempatan Alloh menemukan kita (eaaaa) rasanya sudah begitu akrab. Bisa
lebih sering dan leluasa bertemu dengan fasilitator seperti Ustadzah Meti,
Bunda Annisa, Ummi Rosa dan Ustadzah Nunung. Banyak teman-teman dari jauh main
mengunjungi, apalagi kemarin ada kesempatan Gathering Bengkel Diri perdana di
Jogja alhamdulillah akhirnya bisa bersua langsung dengan Ummu Balqis, Mbak
Alyta, Mbak Naziha, Teh Antie dan Mbak Intan (jajaran wali kelas yang baru,
karena Bengkel Diri semakin banyak kelasnya haha alhamdulillah).
Udah, gak ngerti lagi pokoknya. Skenario Alloh begitu indah,
di saat bener-bener down ada aja Alloh siapin orang-orang yang mau ngerangkul
Tiwul (dear my geng Singlelillah, geng Sholihah Squad Jogja atau kalau enggak
tinggal lari ke Ustadzah Meti sama Ummi Rosa haha). Alloh Maha Baik, sungguh
baik. Betapa beruntungnya saya diberikan rezeki dengan dikelilinginya oleh
orang-orang yang sholihah, yang bisa mengingatkan saya tentang kebaikan,
menegur saya jika ada salah dan tidak meninggalkan saya jika tersesat (pengen
peluk satu-satu terus pokoknya huhu).
Baiklah, jadi panjang dan ke mana-mana dengan bahasa
belepotan kan ternyata haha. Terkhusus Ustadzah Nunung, jazaakillah khoir telah
memotivasi Tiwul untuk berani menulis di depan publik :)
Barokallohu fiikum, Bengkel Diri ^^
