Saturday, January 12, 2019

Back to Alloh, with Bengkel Diri



Bismillahirrohmanirrohiim
Hallo, Assalamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh :)

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, akhirnya kesampaian ngeblogging setelah sekian lama (menggunakan alasan balapan buat tugas deadline haha astagfirulloh, maaf ya Ustadzah Nunung jangan dijewer Tiwulnya xD )

Sebenarnya kalau disuruh nulis memang belum ada keahlian, belum ada ketrampilan, belum bisa rapi dan yak benar memang harus dibiasakan menulis dan terus dilatih. Tapi kalau mau posting atau membuat status caption tau-tau bisa panjang dan sok-sok an ngelantur gitu hehe, di Bengkel Diri level 2 dituntut ngeblog dan baiklah mungkin ini awal biar bisa makin hobi lama-lama mengarang bebas haha.

Bengkel Diri. Pertama kali lihat dan menerka-nerka, “Asik nih sekolah online, lagi butuh direparasi” ya memang. Sekolah online ini foundernya Ummu Balqis, memfasilitasi orang-orang yang ingin berhijrah dan memberikan bekal untuk persiapan menjadi istri sholihah plus ibu kebanggaan yang hebat (apalagi yang Singlelillah ni cie rinduuuu, bikin rusuh haha). Setelah masuk grup masyaAlloh, seperti menemukan bongkahan berlian hehe, ketemu banyak teman hijrah dan lebih luas jaringannya dari Sabrang sampai Merauke bahkan banyak yang dari luar negeri tanpa memandang perbedaan dan di Bengkel Diri berkumpul jadi satu dengan tujuan yang sama, saling menggenggam untuk sama-sama menjadi lebih baik di mata Alloh.

Di Bengkel Diri, saya menemukan mereka yang jauh lebih banyak ujiannya hingga membuatku tertampar keras karena masih hobi mengeluh dan kurang bersyukur. Hebatnya ukhuwah di Bengkel Diri meski belum saling bertemu tetapi rasa kekeluargaannya jauh lebih erat dan menjadi alarm pengingat saat futur sedang menyelimut. Tapi alhamdulillah saya berdomisili di kota yang qodarulloh fasilitatornya juga banyak di sini, bisa lebih sering bertemu, bahkan intens (mau sombong takut dosa haha)

Di level 1 alhamdulillah saya masuk di kelas Makkah angkatan 2, ada Mbak Al yang dengan setia mendampingi kita di kelas (istilah kerennya sekarang wali kelas). Bertemu Emaklillah dan geng Singlelillah yang bisa banget bikin rusuh hingga sebutan Martabak Squad muncul haha masyaAlloh, saya tu suka terharu nyampe nangis menye betapa Alloh baik banget bisa dipertemukan dengan mereka (duh pengen meluk satu-satu) dan punya cita-cita semoga bisa makan bareng martabak di Makkah AAMIIN :)

Di level 2 alhamdulillah masuk di angkatan pertama, yang awalnya berfikir “Oh besok jaim dulu aja deh, mau liat kelas lain (Jeddah-Madinah) campur dengan kelas Makkah jadi gimana. Setelah masuk eh ternyata sama aja ya, rusuhnya haha” hingga geng Singlelillah semakin rame semakin gak karuan grup khusus Singlelillah rusuh notif ratusan, Emaklillah ngiri merasa tersingkir grup Cafe Raudhah jadi sepi haha :D

Ya begitu, ketika sudah mendapatkan ketenangan jiwa dari proses hijrah ada kalanya juga terkena virus “futur” menjadi malas, dengan Bengkel Diri ini bisa terus memotivasi apalagi kalau udah ada challenge balapan ngerjain tugas haha.

Intinya, di Bengkel Diri ini saya pribadi menemukan banyak hal-hal baru dan pengalaman luar biasa yang gak bisa diungkapkan. Entah kenapa rasa ukhuwah ini begitu kuat, bahkan yang awalnya belum bertemu sama sekali saat ada kesempatan Alloh menemukan kita (eaaaa) rasanya sudah begitu akrab. Bisa lebih sering dan leluasa bertemu dengan fasilitator seperti Ustadzah Meti, Bunda Annisa, Ummi Rosa dan Ustadzah Nunung. Banyak teman-teman dari jauh main mengunjungi, apalagi kemarin ada kesempatan Gathering Bengkel Diri perdana di Jogja alhamdulillah akhirnya bisa bersua langsung dengan Ummu Balqis, Mbak Alyta, Mbak Naziha, Teh Antie dan Mbak Intan (jajaran wali kelas yang baru, karena Bengkel Diri semakin banyak kelasnya haha alhamdulillah).

Udah, gak ngerti lagi pokoknya. Skenario Alloh begitu indah, di saat bener-bener down ada aja Alloh siapin orang-orang yang mau ngerangkul Tiwul (dear my geng Singlelillah, geng Sholihah Squad Jogja atau kalau enggak tinggal lari ke Ustadzah Meti sama Ummi Rosa haha). Alloh Maha Baik, sungguh baik. Betapa beruntungnya saya diberikan rezeki dengan dikelilinginya oleh orang-orang yang sholihah, yang bisa mengingatkan saya tentang kebaikan, menegur saya jika ada salah dan tidak meninggalkan saya jika tersesat (pengen peluk satu-satu terus pokoknya huhu).

Baiklah, jadi panjang dan ke mana-mana dengan bahasa belepotan kan ternyata haha. Terkhusus Ustadzah Nunung, jazaakillah khoir telah memotivasi Tiwul untuk berani menulis di depan publik :)

Barokallohu fiikum, Bengkel Diri ^^